Saturday, November 26, 2016

Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman

Ada sementara kalangan umat berpendapat bahwa riddah atau yang lebih dikenal dengan kata-kata murtad -pernyataan seseorang keluar dari Islam dan pindah agama lain- merupakan satu-satunya pintu penyebab batalnya keislaman seorang muslim. Adapun penyimpangan-penyimpangan dari alur pemikiran atau perilaku yang dilakukannya baik dibidang akidah, syari'ah dan juga muamalah dianggap tidak sedikitpun mengusik keislamannya, selama masih shalat, haji dan masih merasa dirinya seorang muslim.

Penulis buku ini berusaha meluruskan fikrah yang salah tersebut dengan memaparkan sepuluh perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Syirik, tidak mau mengkafirkan orang yang jelas kekafirannya, menganggap ada ajaran yang lebih sempurna dari Al-Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan menolak (membenci) meski hanya sebagian dari ajarannya, merupakan bagian dari isi kitab ini yang diyakini oleh penulis dan dibuktikan dengan nash yang shahih sebagai bagian dari sepuluh pembatal di atas.

Meskipun angka sepuluh ini bisa ditambah (berkembang) lagi, tetapi penulis dalam mukadimah kitabnya, menerangkan bahwa semua pembatal-pembatal yang sangat banyak jumlahnya akhirnya akan terpulang kepada salah satu di antara pembatal yang beliau tulis di dalam kitab "At-Tibyan Syarhu Nawaqidhil Islam" ini.

Anda bisa mengunduh melalui link berikut: Download e-Book
File Name: Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman
Penulis     : Sulaiman bin Nashir bin Abdullah A-Ulwan
File Type  : PDF
File Size   : 4,23 MB

Saturday, November 19, 2016

Tawassul

Telah terjadi pertentangan besar menyangkut masalah tawassul dan hukumnya menurut agama, antara yang membolehkan dan yang mengharamkan. Telah berabad-abad lamanya kaum muslim terbiasa mengucapkan di dalam doa mereka:

"Ya Allah, dengan hak Nabi-Mu, atau dengan kemuliaan atau kehormatannya di-sisi-Mu, ampunilah aku."

"Ya Allah, dengan kemuliaan para wali dan orang-orang shaleh, seperti fulan dan fulan." dsb

Mereka menamakan semua ini tawassul. Mereka membolehkannya dan menganggapnya syar’i (sesuai dengan syara’), karena menurut mereka terdapat beberapa ayat dan hadits yang menguatkan dan mensyariatkannya. Ada juga sekelompok orang yang membolehkan tawassul kepada Allah dengan melalui sebagian makhluk-Nya yang sebenarnya tidak layak memperoleh kehormatan; seperti kuburan para wali, bangunan yang didirikan di atas kuburan mereka; tanah, batu dan pohon yang ada di sekitar kuburan tersebut.

Lalu apakah tawassul itu? Apakah macam-macamnya? Apakah maksud ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah ini? Bagaimanakah hukumnya menurut Islam? Pada buku ini semuanya akan dijelaskan secara rinci. Semoga Allah merahmati kita semua yang diberi pengetahuan walau hanya sedikit sekali, akan tetapi senantiasa semuanya menjadikan kita tetap teguh di atas kebenaran.

Anda bisa mengunduh melalui link berikut: Download e-Book
File Name: Tawassul
Penulis     : Muhammad Nashiruddin al-Albani
File Type  : DjVu (Apa itu format DjVu dan bagaimana membukanya?)
File Size   : 6,76 MB

Saturday, November 12, 2016

Silsilah Hadits Shahih (Buku 1)

Buku ini adalah terjemahan dari kitab "Silsilatul Ahaditsish-Shahihah" karya Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang peneliti dan kritikus hadits terkemuka, yang hidup pada abad 14 H. Dhafar Ahmad al-Utsmani at-Tahanawi dalam bukunya Qawa'id fil-Ulumul-Hadits menyebutkan, bahwa penelitian terhadap status suatu hadits merupakan masalah ijtihadi. Penilaian ini akan tetap merupakan problem yang berkembang di kalangan para peneliti dan kritikus hadits, dengan hasil yang bervariasi. Hadits yang sama oleh seorang peneliti bisa dinilai sebagai hadits shahih, tetapi bagi peneliti yang lain bisa juga hadits hasan, atau bahkan dha'if. Satu sisi, kondisi ini menimbulkan kegembiraan tersendiri. Sebab merupakan indikasi adanya minat yang besar di kalangan umat Islam untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agamanya dari sumber yang sevalid mungkin. Namun di sisi lain, hal ini menimbulkan keprihatinan pula, sebab bisa mengusik persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam.

Sisi terakhir inilah yang nampaknya mendorong Muhammad Nashiruddin al-Albani untuk mengoleksi hadits shahih yang merupakan hasil para peneliti dan kritikus yang kompeten dibidangnya. Kita bisa melihat bagaimana dia dengan kearifannya, memaparkan kritik dari semua pihak, baik dari kritikus yang ketat, longgar, maupun yang moderat.

Anda bisa mengunduh melalui link berikut: Download e-Book
File Name: Silsilah Hadits Shahih
Penulis     : Muhammad Nashiruddin al-Albani
File Type  : PDF
File Size   : 26,79 MB 

Saturday, November 5, 2016

Allah Ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah

Sesungguhnya ilmu mengenal Allah dan mengenal sifat-sifat-Nya adalah ilmu paling agung dan paling utama, serta paling wajib untuk didahulukan mempelajarinya atas seluruh ilmu lainnya, karena pengetahuan terhadap ilmu ini merupakan pondasi bagi keselamatan dan kebahagiaan hakiki, yang oleh karena itu ilmu Tauhid ini dikenal juga dengan nama Ilmu Ushul (pondasi agama). Dalam QS. Muhammad : 19, Allah mendahulukan perintah mengenal tauhid di atas perintah istighfâr. Hal ini dikarenakan bahwa mengenal Ilmu Tauhid terkait dengan Ilmu Ushul yang merupakan dasar atau pokok-pokok agama, yang karenanya harus didahulukan, sementara mengucapkan istighfâr terkait dengan Ilmu Furu' atau cabang-cabang agama. Tentunya tidak dibenarkan bagi siapapun untuk melakukan istighfâr atau melakukan kesalehan lainnya dari amalan-amalan furû' jika ia tidak mengetahui Ilmu Tauhid atau Ilmu Ushul, karena bila demikian maka berarti ia melakukan kesalehan dan beribadah kepada Tuhan-nya yang ia sendiri tidak mengenal siapa Tuhan-nya tersebut.

Kitab ini adalah kumpulan dalil-dalil jelas dari al-Qur'an, hadits, dan Ijma' umat Islam, serta pernyataan ulama terkemuka dari empat madzhab, di tulis dalam beberapa bab; bab satu definisi tempat dan arah, bab dua dalil kesucian Allah dari tempat dan arah dalam al-Qur'an, bab tiga dalil kesucian Allah dari tempat dan arah dalam hadits, bab empat dalil kesucian Allah dari tempat dan arah dalam ijma', bab lima dalil akal kesucian Allah dari tempat dan arah, bab enam penjelasan bahwa di atas arsy terdapat tempat dalam tinjaun syari'at dan akal, bab tujuh hukum orang yang menetapkan tempat bagi Allah, bab delapan pernyataan ulama empat madzhab dan lainnya dalam ketetapan akidah Ahlussunnah: "Allah ada tanpa tempat dan arah", bab sembilan penjelasan tidak boleh dikatakan "Allah ada disetiap tempat", dan bab sepuluh penjelasan bahwa langit kiblat doa.

Anda bisa mengunduh melalui link berikut: Download e-Book
File Name: Allah Ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah
Penulis     : Abu Fateh, MA (Penerjemah)
File Type  : PDF
File Size   : 4,19 MB